Blog

Kegelisahan Seorang Pastor Katolik 24MAR 19

Kegelisahan Seorang Pastor Katolik

1 Comment

Berikut adalah copy paste bagian inti dialog Pastor Ferry Sutrisna Widjaja dengan Rm J. Sudrijanta. Belajar dari tradisi agama lain, termasuk Buddhisme, bagi seorang Katolik, untuk sebagian orang merupakan sebuah ancaman, baik bagi awam maupun klerus; bagi sebagian yang lain merupakan sebuah berkah.

Salam hormat. Pagi ini saya terbangun dengan gelisah.

Tahun 2015 saya jumpa Mohammad Zaim seorang Muslim asal Jatim yang belajar agama Buddha selama lebih dari 5 tahun di Biara Plum Village di Perancis yang dipimpin Master Zen Thich Nhat Hahn antara lain karena seorang gurunya di pesantren mengatakan kalau Zaim ingin menjadin Islam yang sejati belajarlah Buddhisme.

Sejak tahun 2015 tsb saya juga belajar Buddhisme dan sering kontak dengan para biksu dari berbagai tradisi dan bbrp kali ikut retret Buddha. Saya sempat juga ikut ziarah ke Bhutan dengan rombongan yang setengahnya Katolik dan setengahnya Buddhist ditemani biksu dan rinpoche dari Bhutan. Saya mengalami diperkaya oleh  tradisi Buddha dan mengalami menjadi lebih memahami agama dan iman Katolik yang saya yakini.

Saya menemukan bahwa Paul F. Knitter seorang awam teolog Katolik yang dihargai bahkan berani menerbitkan buku berjudul "Without Buddha I could not be a Christian".

Saya sangat sadar bahwa pengalaman saya ini belum tentu bisa diterima di kalangan Katolik. Ada banyak yang mengatakan untuk semakin menjadi Katolik tidak perlu belajar dari tradisi lain. Cukuplah belajar dari tradisi alkitab dan Yesus Kristus. Ada yang mengatakan bahwa seorang imam Katolik dilarang untuk mengajak umat Katolik untuk mempelajari tradisi agama lain sebagai salah satu cara untuk memperkaya penghayatan iman Katolik.

Ada juga yang mendukung saya untuk belajar dari tradisi agama lain bukan hanya Buddha tapi juga Islam, Hindu, Tao, Konghucu karena menjadi Katolik dipanggil untuk menjadi inter-religious. Ada juga yang mengatakan kita bahkan dipanggil untuk berani memasuki dialog teologis dengan tradisi agama lain untuk saling memperkaya.

Saya sampai sekarang masih meyakini iman Katolik namun saya mengalami bahwa keyakinan iman pribadi dan praktek keagamaan saya diperkaya oleh berbagai tradisi khususnya dari tradisi Buddha.

Semoga pengalaman iman pribadi ini tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain melainkan memperkaya kehidupan antar umat beriman dan beragama di bumi yang satu ini.

Inilah yang saya yakini juga dari kesadaran ekologis untuk merawat rumah kita bersama. (Pastor Ferry S W)

===Berikut tanggapan Rm J Sudrijanta===

Pastor Ferry yang baik,

Maaf baru bisa punya kesempatan longgar untuk membalas WA.

Pastor menulis, “Saya sampai sekarang masih meyakini iman Katolik namun saya mengalami bahwa keyakinan iman pribadi dan praktek keagamaan saya diperkaya oleh berbagai tradisi khususnya dari tradisi Buddha. "

Pengalaman Pastor sejalan dengan dekrit 4 Kongregasi Jenderal (KJ) Serikat Yesus ke-32 (tahun 1974/1975) dan diperkuat lagi dalam dekrit 5 Kongregasi Jenderal Serikat Yesus ke 34 (tahun 1995). Pesannya adalah “menjadi seorang religious dewasa ini haruslah menjadi inter-religious”.

Tentang dialog dengan Budhisme, KJ ke 34 menulis begini:

“15. Buddhism, in its many forms, is a major religion influencing the lives of millions of people around the world. The Four Noble Truths and the Eight-Fold Path of the Buddha propose a view of this world based on its essential inadequacy and a way of life which, through the practise of ethical discipline, wisdom and meditation, leads to a state of inner liberation and spiritual enlightenment. Buddhism calls its followers to a selfless universal compassion for all living creatures; it has a special appeal for contemporary men and women seeking a true, personal spiritual experience. Dialogue with Buddhists enables Christians to join hands with them to face the basic frustration so many feel today and address together problems of justice, development and peace; in addition it invites Christians to rediscover the contemplative riches within their own tradition.” https://www.scu.edu/ic/programs/ignatian-tradition-offerings/stories/decree-5-gc-34-interreligious-engagement.html

Dengan belajar tradisi lain, kita akan diperkaya untuk memahami lebih mendalam tradisi kita sendiri. Dengan cara demikian, kita juga akan memperkaya tradisi lain.

Belajar dari tradisi lain dan kembali lagi ke tradisi di mana kita berasal adalah cara menjalani olah rohani yang jelas tidak bertentangan dengan ajaran Katolik, tetapi justru sangat Katolik. Santo Ignatius menulis dalam prinsip “Asas dan Dasar” dalam Latihan Rohani (nomor 23), agar kita menggunakan segala sarana dan memilih mana yang lebih (magis) membawa kepada kemuliaan Tuhan.

Menjadi inter-religious pada jaman ini adalah sarana dan jalan magis untuk kemuliaan Tuhan. Begitulah dalam bahasa para pengikut Ignatius.

Mereka yang tidak paham, juga dari kelompok para Jesuit sekalipun, tentu karena tidak mengerti inti kekayaan mistikal Ignatian, yang berarti juga tidak mengerti kekayaan tradisi gereja Katolik, selain karena malas dalam pencarian dan serba dangkal dalam hidup dan pemahaman.

Saya juga pernah menulis soal dialog inter-religious dengan judul “Beyond Religion. Kalau-kalau berminat, silahkan buka di link ini. https://beyondstateofmind.com/2016/12/13/beyond-religion/

Salam hangat.

Peace n Joy

J Sudrijanta, S.J.

1 Comment

  • Terima kasih atas pencerahan ini Romo!
    Seperti yg saya pun alami juga inter- religion memperkaya iman dan batin bagi Kemuliaan Tuhan!!

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *