Blog

Murah Hati 26FEB 19

Murah Hati

0 Comment

Oleh J. Sudrijanta S.J.

“If truth doesn't set you free, generosity of spirit will.” ― Katerina Stoykova Klemer

Ada banyak jalan pencerahan dan praktik bermurah hati adalah salah satu jalan terdekat menuju pencerahan. Apabila kita belum berjumpa dengan kebenaran yang mencerahkan, praktik bermurah hati akan menolong kita.

Apabila tidak ada orang ingin memberi dan hanya ingin menuntut, apa jadinya dunia ini? Dalam kenyataan, masih banyak orang baik di muka bumi. Mereka bukan hanya senang memberi, tetapi memberi dengan murah hati telah menjadi orientasi dasar hidupnya. Mereka bukan hanya orang-orang kaya yang berkelimpahan materi, tetapi juga orang biasa bahkan orang miskin dalam ukuran umum.

Praktik bermurah hati bukan hanya menghantar kita pada pencerahan, tetapi juga mendorong dengan kuat gerak perubahan dunia ini ke arah yang lebih baik. Apabila orang memahami kebenaran ini, apakah ada orang yang tidak ingin bermurah hati?

1

Apa yang disebut dengan murah hati?

Pertama, murah hati adalah kualitas batin yang membuat orang ringan memberi, bahkan memberi lebih daripada apa yang diminta atau dibutuhkan.

Apa factor kunci yang membuat orang murah hati? Bahagia adalah factor kuncinya. Ketika Anda bahagia, Anda menjadi orang yang murah hati. Ketika Anda murah hati, Anda akan menjadi lebih bahagia. Apabila orang memahami kebenaran ini, apakah ada orang yang tidak ingin bermurah hati?

Apapun yang ada di dalam akan terekspresikan ke luar. Begitu pula saat Anda bahagia. Energi kebahagiaan akan terekspresikan keluar dalam bentuk memberi.

Sesungguhnya tidak ada orang egois atau orang altruis. Yang ada adalah sebagian orang hidup tidak bahagia, sebagaian yang lain bahagia atau sangat bahagia. Orang yang tidak bahagia pasti kikir atau tidak murah hati. Orang yang bahagia pasti murah hati, dan yang sangat-sangat bahagia hidupnya pasti sangat-sangat murah hati.

Apa yang kita berikan bersifat terbatas apabila menyangkut hal-hal finansial atau fisik. Uang atau materi yang Anda berikan kepada mereka yang membutuhkan selalu dalam jumlah terbatas.

Pemberian secara non-fisik tidak mengenal batas. Itu bisa bisa berupa senyuman, sikap positif, kreatifitas, sumbangan pemikiran, energy kedamaian, cinta kasih, pengertian, pemahaman, penerimaan, perhatian atau doa. Pemberian non-fisik tidak kenal kata rugi dan tidak memiliki resiko apapun. Dengan kata lain, kita bisa bermurah hati secara lebih luas jangkauannya, tak terbatas, tidak beresiko, tidak butuh biaya, tidak ada ruginya, apabila kebaikan yang mau kita bagikan bersifat non-fisik.

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.
Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu;
Berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Lukas 6:27-28)

Apabila kita sudah mengasihi orang yang mengasihi kita, saatnya sekarang untuk memperluas jangkauan kemurahan hati dengan mengasihi orang yang membenci kita. Apabila kita sudah bisa mengasihi tetangga kita tanpa pandang bulu apakah mereka baik atau jahat, kita bisa belajar tidak menyakiti dan mencintai hewan sebagai sesame makhluk hidup. Apabila kita sudah bisa menyayangi hewan, kita bisa belajar untuk tidak menyakiti dan mencintai pohon, hutan dan alam semesta.

Apabila praktik ini kita lakukan, bukankah tidak aka nada lagi konflik dan peperangan di muka bumi? Selama masih ada konflik dan peperangan, jangan-jangan kita sendiri belum sungguh bermurah hati; dan kita belum bermurah hati karena kita belum cukup bahagia.

2

Kedua, murah hati adalah juga sebuah kualitas spiritual bahwa kita bisa menyediakan diri untuk dipakai oleh Tuhan dan alam semesta untuk menghadirkan kebahagiaan dan kebaikan bagi sesama melalui proses “memberi dan menerima.”

Ketika kita memberi, kita sedang mengekspresikan kebahagiaan kita ke luar, dan ekspresi ini berfungsi sebagai jembatan atau kendaraan bagi Tuhan dan alam semesta untuk menghadirkan kebahagiaan di dunia.

Tuhan dan alam semesta ini tak sedetik pun berhenti menopang dan memberi keberlimpahan hidup bagi banyak sekali makhluk. Berkah Tuhan dan aliran energy alam semesta mengalir melalui proses memberi dan menerima.

Tubuh kita adalah tubuh alam semesta dan tubuh alam semesta adalah tubuh kita. Batin kita adalah batin alam semesta dan batin alam semesta adalah batin kita. Diri kita dan alam semesta selalu dalam jalinan keterhubungan, saling bergantung dan saling mempengaruhi.

Apabila kita menahan kebaikan yang seharusnya kita berikan kepada sesame dan makhluk lain, kita sedang menahan atau menunda lebih banyak kebaikan yang mau diberikan kepada kita. Memberi sebagai ekspresi dari kebahagiaan di hati membuat berkah Tuhan dan keberlimpahan alam semesta berputar dalam hidup kita.

Dengan memberi sesungguhnya kita menerima. Pemberian kepada orang lain sesungguhnya adalah pemberian kepada diri sendiri. Apabila orang mengerti kebenaran ini, apakah ada orang yang tidak ingin memberi?

Apabila Anda mengekspresikan kebahagiaan Anda kepada sesosok jiwa yang dipertemukan dengan Anda, siapakah yang pertama-tama merasakan pemberian Anda? Anda sendiri bukan? Dengan membuat orang lain bahagia, pertama-tama kita sendirilah yang bahagia dan kebahagiaan yang kita ekspresikan kepada orang lain akan menambah kebahagiaan kita. Itulah mengapa memberi lebih membahagiakan daripada menerima, dan sesungguhnya ketika memberi pada saat yang sama kita menerima.

“Bila orang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga pipimu yang lain;
bila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.
Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu, dan janganlah meminta kembali dari orang yang mengambil kepunyaanmu.” (Lukas 6:29-30)

3

Ketiga, murah hati adalah juga kualitas batin yang memungkinkan kita berbuat untuk orang lain apa yang kita kehendaki orang lain perbuat untuk diri kita.

Apabila kita ingin lebih bahagia, kita perlu lebih banyak membahagiakan orang lain. Apabila kita ingin lebih damai, kita perlu membuat orang-orang disekitar merasakan damai dengan kehadiran kita. Apabila kita ingin lebih sejahtera, bekerjalah dengan keras untuk menolong orang lain agar lebih sejahtera.

“Sebagaimana kamu kehendaki orang berbuat kepadamu, demikian pula hendaknya kamu berbuat kepada mereka.” (Lukas 6:31)

Singkatnya, tanamlah pohon kebaikan sebanyak mungkin, apabila kita ingin memetik lebih banyak buah kebaikan. Mengapa? Karena kita tidak bisa memetik buah kebaikan yang tidak kita tanam. Kita hanya akan bisa menuai apa yang kita tanam.

4

Keempat, murah hati adalah juga tahu dan sadar apa yang sungguh kita butuhkan untuk kedamaian dan kebahagiaan bagi tubuh dan batin kita.
Bisa jadi kita murah hati kepada orang lain, tapi tidak cukup murah hati untuk diri sendiri. Mengapa? Karena kita belum sadar.

Apa bedanya tahu dan sadar? Apabila kita tahu bahwa marah-marah menyakiti orang lain dan diri sendiri dan tetap saja kita suka marah-marah, itu artinya kita tahu tapi belum sadar.

Apakah Anda tahu ketika Anda marah, Anda menyebarkan racun dalam tubuh Anda? Ilmu kedokteran membuktikan itu. Jadi kalaupun Anda tahu tapi tetap suka meracuni tubuh Anda dengan suka marah-marah, itu artinya tahu tapi tidak sadar. Dengan kata lain, Anda belum cukup bermurah hati pada diri Anda sendiri.

Sadar artinya kita tahu apa yang sungguh kita inginkan dan kita bisa merealisasikannya sekarang juga.

Janganlah memasukkan situasi-situasi yang terus berubah di luar sebagai basis pengalaman batiniah kita. Situasi di luar adalah satu hal dan apa yang Anda rasakan tentang situasi di luar adalah hal yang lain. Situasi di luar tidak pernah terjadi 100% sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi apapun yang terjadi dalam interioritas kita, kita sendirilah yang menentukan.

Kedamaian dan sukacita adalah rumah kita. Apabila setiap kali kita mengingatkan diri kita untuk kembali pulang ke rumah, damai dan sukacita hidup adalah satu-satunya cara terbaik, kita bisa menghayati kehidupan dari saat ke saat.

5

Ada orang yang sangat dikagumi dunia karena berhasil melakukan percepatan pembangunan infrastruktur dan pemerataan pembangunan di berbagai daerah yang akan memicu pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dan makin mudahnya akses dan perjumpaan peradaban dan budaya di seluruh negeri. Hal ini tidak dilakukan oleh semua pemimpin negeri ini sebelumnya.

Namun di negeri sendiri, orang ini dicaci, direndahkan, dan mau disingkirkan oleh gerombolan para peternak politik yang berkomplot dengan para pemuka agama yang haus uang dan kekuasaan.

Dengan mengutip tulisan berikut yang dibuat orang ini, saya bukan bermaksud berkampanye. Hanya sekedar ingin menunjukkan bahwa orang ini memiliki kualitas kemurahan hati yang mengagumkan. Itulah mengapa dunia mengaguminya, meskipun sebagian yang lain mencaci.

“Tidak semua kalangan elit bisa terima punya presiden seperti saya. Saya itu kan bukan siapa-siapa. Bukan anak kongklomerat, bukan orang kaya, dan tidak datang dari keluarga terpandang. Penghinaan itu kan hanya bisa dilakukan kepada mereka yang dianggapnya rendahan. Saya ya…mungkin saja rendahan.


Tapi jadi presiden kan memang untuk bekerja pada negara, bukan menjadi penguasa segala-galanya. Kunci menghadapi kebencian dan penghinaan adalah rendahkan hati serendah-rendahnya. Terus fokuskan perhatian kita untuk semakin banyak bekerja. Penghinaan apabila kita hadapi dengan rasa sombong sedikit saja, bisa membuat kita sakit. Nggak perlu dilawan, biarkan saja.” –Jokowi, Presiden RI
---
J. Sudrijanta, S.J.
Email: sudrijanta1@gmail.com; sudrijanta@yahoo.co.uk
Blog: www.meditativestate.wordpress.com

fhfhhhff

0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *