Blog

Hidup Bahagia Secara Alamiah 25FEB 19

Hidup Bahagia Secara Alamiah

0 Comment

Oleh J Sudrijanta

Semua orang tahu apa bedanya kenikmatan dan kebahagiaan. Kenikmatan adalah kebahagiaan yang dikondisikan oleh hal-hal di luar. Anda bahagia kalau bisa makan enak, misalnya, bisa memenuhi kebutuhan biologis, punya teman banyak, mendapat pujian atau pengakuan, dan seterusnya. Kebahagiaan seperti itu disebut kenikmatan.

Kebahagiaan yang bukan kenikmatan adalah sukacita tanpa sebab, sukacita tanpa bergantung pada hal-hal di luar.

Apa yang kita cari sepanjang hidup? Kenikmatan atau kebahagiaan? Kebahagiaan sebagai kenikmatan adalah kebahagiaan yang sering kita cari atau kita kejar selama hidup. Kita sering berpikir keliru: semakin banyak kenikmatan, semakin besar kebahagiaan. Kenyataannya berbalikan.

Kenikmatan tentu punya tempatnya dalam hidup. Tetapi kebahagiaan, atau sukacita batiniah yang tidak dikondisikan hal-hal di luar, adalah sesuatu yang lain. Ini adalah kebahagiaan yang sesungguhnya dan

Apabila ada kebahagiaan seperti ini di hati kita, maka kebahagiaan ini akan tereskpresikan ke luar, dan kita tidak tertarik sekedar mencari kenikmatan dari luar. Kebahagiaan yang kita ekspresikan keluar tentu lebih dalam daripada kebahagiaan yang kita dapatkan dari luar.

Rasa damai, kasih, antusiasme, rasa lapang, rasa keberlimpahan dari dalam, adalah bentuk-bentuk kebahagiaan. Ketika kita berada dalam situasi yang sulit atau tidak enak sekalipun, apabila batin kita tidak tergoncang, tetap tenang dan stabil, di situ ada suatu kebahagiaan yang lain.

Berbahagialah hai kamu yang miskin, sebab kamulah yang empunya kerajaan Allah. (Lukas 6: 20)
Berbahagialah, hai kamu yang se¬karang ini menangis, karena kamu akan ter¬tawa. (Lukas 6: 22b)

Sabda Bahagia dalam Injil di atas berbicara tentang kebahagiaan yang sesungguhnya—bukan kebahagiaan yang terkondisi, bukan kebahagiaan yang terkait dengan hal-hal di luar, bukan kebahagiaan sebagai kenikmatan. Itu adalah kebahagiaan sesungguhnya dan kebahagian seperti itu alamiah.

Ketika Anda hidup bahagia secara alamiah, apapun keadaan Anda dalam hubungan dengan dunia di luar, tidak penting, dalam arti tidak menggoncang batin Anda.

Ketika Anda hidup bahagia secara alamiah, jiwa Anda menjadi tenang, damai, meskipun barangkali miskin, lapar, hidup penuh tangisan, ditolak atau dibenci orang.

Ketika Anda hidup bahagia secara alamiah, Anda digetarkan rasa ketercukupan, kepuasan atau rasa keberlimpahan dari dalam. Anda tidak lagi tertarik untuk mencari, tetapi sekarang bergerak untuk memberi.

Kebahagiaan alamiah tidak bisa dicari, tidak perlu dikejar, tetapi hanya perlu direalisasikan. Anda tidak perlu melakukan sesuatu yang menyenangkan supaya Anda bahagia. Kebahagiaan alamiah tidak ditentukan apakah Anda mendapat sesuatu atau tidak mendapat sesuatu, tidak ditentukan apakah Anda memiliki lebih atau kurang, tidak ditentukan apakah Anda bisa melakukan atau tidak bisa melakukan sesuatu.

Tiga praktik kesadaran berikut akan menolong kita untuk menemukan kebahagiaan secara alamiah kapanpun kita mau.

1. Sadarilah bahwa kebahagiaan adalah tanggung jawab Anda

Menjadi bahagia adalah tanggung jawab utama dan pertama setiap orang. Janganlah kita melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, situasi di luar, atau bahkan Tuhan, atas kemalangan hidup kita. Hidup kita menyedihkan atau membahagiakan, kita sendirilah yang menciptakan.
Menjadi bahagia bukanlah tujuan hidup, tetapi sebuah tuntutan hidup. Apabila Anda tidak bahagia, apapun yang Anda lakukan apa artinya? Kalau Anda tidak bahagia, Anda hidup seperti dalam penjara. Hanya kalau Anda bahagia, banyak kemungkinan dan cakrawala luas akan terbuka.

Apapun yang Anda lakukan, energy batiniah Anda itulah yang Anda sebarkan Apabila tidak ada sesuatu yang menggetarkan Anda dari dalam, Anda tidak akan bisa melakukan sesuatu yang menggetarkan bagi dunia. Apabila Anda punya perhatian pada dunia di luar Anda, hal yang pertama yang perlu dilakukan adalah mentransformasikan diri Anda menjadi makhluk yang bahagia.

Saat menghadapi konflik atau situasi-situasi yang sulit, kita perlu berlatih lebih banyak diam, tidak menilai, tidak menyalahkan, tidak membenarkan. Rasakan apa saja yang Anda alami di dalam tubuh dan batin. Rasakan relaksasi dan ketenangan di dalamnya. Bertahanlah di sana selama Anda bisa. Maka kebahagiaan batiniah akan lahir secara alamiah.

2. Realisasikan bahwa kebahagiaan adalah keadaan asali siapa Anda
Kita hidup dengan memiliki banyak dimensi. Ada dimensi fisik, psikologis, sosial dan spiritual. Dalam setiap dimensi, ada penderitaan dan kenikmatannya masing-masing.

Persoalannya adalah ini. Ketika kita mengidentikkan diri dengan apa yang kita miliki, maka kita melupakan identitas siapa kita yang sesungguhnya. Merealisasikan identitas yang sesungguhnya, yaitu makhluk spiritual yang bahagia sejak semula, adalah dengan memutus identifikasi diri kita dengan apa yang kita miliki.

Kita bukanlah hal-hal yang kita miliki. Kita bukanlah tubuh fisik, bukan pikiran, bukan emosi, bukan identitas yang ditempelkan oleh orang lain, bukan ego atau keakuan. Siapa Anda yang sesungguhnya melampaui itu semua.

Disidentifikasi terhadap segala kepemilikan adalah cara efektif untuk merealisasi identitas asali kita. Oleh karena itu, praktik melepas menjadi penting.

3.Kembangkan cara melihat melampaui konsep pikiran

Semua penderitaan batin muncul sebagai hasil dari persepsi yang melenceng dari fakta apa adanya. Proses-proses kognisi dan afeksi menjadi lebih penting dari pada hidup sebagai hidup itu sendiri.
Kita kehilangan cita rasa dan pemahaman mendalam apa artinya betul-betul hidup. Pecahan pikiran di benak kita dan emosi dalam diri kita yang sering kita cengkeram menghalangi persepi cerah tentang kenyataan.

Padahal pikiran dan emosi bukanlah kenyataanya itu sendiri. Pikiran dan emosi hanyalah pecahan energy sebagai hasil reaksi memori atas stimuli. Memori hanya impresi dari kenyataan dan bukan kenyataannya itu sendiri. Jadi pikiran dan emosi bukanlah representasi kenyataan itu sendiri.

Seluruh hidup ciptaan dan proses penciptaan berlangsung secara mengagumkan dari saat ke saat. Setiap moment selalu indah, segar dan baru. Fakta ini tidak tertangkap apabila kita memahami menurut beban pengaruh emosi dan pikiran. Satu buah pikiran buruk saja atau satu ledakan emosi negative saja yang kita cengkeram bisa menghancurkan segalanya.

Batin yang sempit adalah batin yang mencengkeram setiap pengalaman. Batin yang maha luas adalah batin yang mampu melihat melampaui konsep pikiran. Batin yang maha luas adalah seperti langit luas tak-terbatas dan batin yang sempit sebagai kumpulan pikiran, emosi dan reaksi-reaksi mental adalah seperti awan. Awan cepat muncul dan lenyap. Tetapi langit yang maha luas tetap ada di tempatnya, tanpa terpengaruh oleh muncul dan lenyapnya fenomena awan. Kita bisa belajar mengembangkan persepsi cerah dengan melihat dari langit yang maha luas.

Semua pengalaman dan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini berlangsung sempurna, indah dan bermanfaat. Apabila kita bisa melihat segala pengalaman dan peristiwa dari batin yang maha luas, tidak mustahil kita hidup bahagia secara alamiah.*

0 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *